Rabu, 14 November 2018

ANGINMU ADALAH AKU




Pacitan, 14/11/2018
 
Reny Fitriyan 


Pagi yang cerah, sungguh indah memang. Hangat sinar mentari mulai tampakkan kemegahannya di ujung timur. Apa yang ada di fikir teora sekarang. Teora? Ya, teora. Gadis kecil dengan bola mata berwarna coklat, matanya sungguh indah. Tatapan matanya begitu teduh, menandakan kepolosan bocah seusianya. Badannya agak gemuk, pipinya juga sangat tembam. Ohh, dia lucu denagn tingkah polahnya yang begitu menggemaskan. Kesukaannya ketika berlarian ialah mengibaskan-ngibaskan rambutnya hitamnya yang legam, yang sebenarnya hanya sebahu. Lalu apa yang membuat gadis kecil itu resah.

Ketika membuka matanya, ada yang aneh baginya. Bukan bantal, guling, bahkan boneka kesayangannya yang ia temui. Tembok dengan gambar aneka binatang dan pemandangan, serta warna-warni pelangi. Tapi semuanya terasa luas baginya. Bahkan begitu luas. Hamparan yang begitu luas, sungguh menyejukkan mata gadis kecil itu. Apa yang ada di depannya, mana boneka beruang kesayangannya. Kenapa yang ada hanya hamparan bunga. Tetapi tunggu, bunga apa itu. Dia bahkan belum pernah melihatnya.
Bunganya sangat kecil, warnya putih bersih. Dan ya, ketika angin meniupnya mengapa bunga itu berhamburan kemana-mana. Bunga itu bukan satu lagi, tetapi nmenjadi banyak. Apa maksud dari semua ini. Teora hanya mampu terdiam menatap itu semua, nalarnya masih meraba-meraba apa yang ada didepannya.

Matanya mulai berkaca-kaca ia tidak tahu harus berbuat apa bahkan harus kemana. Meneteslah air mata di pipinya, sekarang pipinya yang temabam itu sudah basah. Perlahahan suara tangisannya pun bahkan mulai mengeras, semakin keras, dan sangat keras. Teora terus saja menangis, sembari memanggil-manggil ibunya. Ia terduduk sambil memegangi lututnya, takut-takut tak ada yang menemaninya, dan ibunya, dia bahkan tak dapat menemukannya ibu disaat seperti ini.

Di sela tangisnya, ada sekelebat bayangan di antara bunga-bunga itu. Bukannya semakin kencang, tangisannya justru terhenti saat itu juga. Teora mulai penasaran, apa itu tadi. Ia pun perlahan mulai beranjak dari duduknya, melangkah menuju hamparan bunga di depannya. Ia mulai menyibak satu persatu kuntum bunga tadi. Mencarinya diantara ribuan hamparan bunga. Ia terus mencari dan menyusurinya, insting keingintahuan gadis kecil itu pun semakin menjadi.
“Baaaaaaaaaaaa” tiba-tiba suara itu muncul di depan wajah teora. Gadis kecil itu pun sampai loncat ke belakang saking kagetnya. Bukan wajah atau teriakan suara ibunya yang ia temui, justru makhluk aneh yang mengangetkannya. Teora pun hanya terdiam, sembari menatap makhluk tersebut. “Itu apa ya kira-kira? 

Hewan atau maianan ya kok aku belum pernah melihatnya” ucap teora dalam hati dengan memasang wajah bingung polosnya. Makhluk itu pun hanya tersenyum menatap kebingungan teora.
Makhluk itu lucu sekali, dia berwarna biru muda, dengan badannya yang gempal membuat perutnya terlihat semakin buncit. Mata bulatnya berwarna hijau. Dia miruip seperti anak panda, mirip sekali hanya saja warnanya berbeda.

Makhluk itu meraih tangan teora sembari tersenyum, “Aku zora, kamu teora kan?”ucap zora, “Lo kok kamu tau namaku? Oh iya, kamu lucu sekali. Aku suka perutmu gembul, pipimu juga sangat tembam, sampai-sampai hidungmu seperti tidak kelihatan”, oceh teora. Mudahnya teora melupakan tangisan dan kebingungannya tadi, setelah bertemu dengan zora.

“Aku bahkan sudah mengenalmu sebelum kamu mengenalku”, ucap zora sembari mengembangkan senyumnya. “Mari kita bermain, kamu pasti sudah rindu suasana itu bukan”, zora pun menarik tangan teora dan mengajaknya mengitari hamparan bunga tadi. Senang sekali wajah teora, dengan antusias mengikuti ajakan zora. Mereka pun berlarian kesana kemari, bersembunyi di antara bunga-bunga hingga saling menemukan satu sama lain. Senyum tawa mereka sangat renyah dan membuat alam tersenyum menyertai kebahagiaan mereka.
Langkah zora pun terhenti di tengah-tengah hamparan bunga tadi. “Apakah kau suka disini teora?” tanya zora pada teora, “Aku suka sekali, disini luas dan banyak bunganya. Aku bisa bermain dan berlarian sepuasnya, apalagi ada teman sepertimu” jawab teora dengan lucunya. “Kalau kau suka bunganya, aku petikkan satu tangkai untukmu ya”. “Aku mau, aku mau” dengan cepat teora menjawab sembari tangannya menadah ke zora.

Zora pun memetik satu tangkai bunga itu dan memberikannya kepada teora, “Ini untukmu teora, jaga baik-baik bunga ini ya. Bunga ini bernama bunga dandelion. Kamu bisa menemukan aku dimanapun kamu melihat bunga ini. Aku selalu berada di dalam bunga ini, menunggumu disini. Karena itu aku tidak bisa bermain terlalu lama denganmu disini”. Teora nampak bingung sekali.

“Kau harus ingat teora, seperti bunga ini. Kamu harus bisa mandiri, kamu harus kuat kemanapun arah angin dan terpaan angin membawamu. Jadilah, gadis kecil yang kuat, dengan tatapan teduhmu yang selalu menenangkan, mata coklatmu yang selalu membuat siapapun senang bermain denganmu. Satu hal lagi teora, kemanapun angin membawaku pergi, akan akan selalu bersamamu, bermain denganmu bersama bunga dandelion ini” pesan zora pada teora. Teora hanya bisa mengangguk tanpa tahu maksud zora sebenarnya. “Pejamkan matamu teora, lalu tiuplah bunga itu” ucap zora. Teora pun memejamkan matanya, lalu meniup bunga dandelion tadi.
Sinar mentari pun mulai menelisik ke sela-sela jendela kamar teora. Teora pun membuka matanya, menemukan boneka kesayangannya. Kamarnya yang berwarna-warni. Tapi tunggu, ada sesuatu yang hilang. Kemana zora. Kemana bunga dandelion itu. Teora mulai mencari, kemanapun ia bisa mencari di seluruh sudut kamarnya.

Teora ingat sesuatu, dia hanya perlu mencari angin. Angin yang membawa temannya pergi. Teora membuka jendela kamarnya, menatap lamat-lamat mentarei pagi dari sudut kamarnya. Dan ya, hembusan angin sepoi menampakkan keajaibannya. Putik dandelion pun mengambang, beterbangan kesana kemari dan menjatuhkannya tepat di taman kecil keluarga teora. Teora pun langsung lari menuju taman keluarganya. Sampainya disana, teora menatap dengan senang putik dandelion tadi. “Aku selalu bersamamu, aku ingin terus bermain bersamamu, aku akan selalu menunggu kemana pun angin membawamu berpetualang” ucap teora dalam hati.
Biarkan aku menjelajah, berpetualang, mengitari dunia. Menemukan semua jawaban. Aku akan selalu menemuimu kemanapun angin membawamu menjauh. Zora.
 

Jumat, 09 November 2018

PESAN TERAKHIR



 Pacitan, 10 Nopember 2018

Ika Noviana N R



Udara pagi berhembus, semakin dingin mencekam tubuh. Jam dinding berdetik sesuai irama. Jarum jam terus berjalan, hingga waktu menunjukkan pukul 06.59, satu menit menuju pagi yang terasa hangat oleh sinar matahari. Namun bagi gadis yang baru menginjak remaja, ini adalah waktu untuknya menyendiri. Hal ini adalah kebiasaannya disetiap pagi. Sambil duduk diatas ayunan, ia bisa menikmati sedikit suasana yang menurutnya menenangkan. Bagaimana tidak, dengan suguhan yang luar biasa. Birunya laut dipadu dengan birunya langit . kicauan burung yang merdu membuat keindahan  pagi itu nyaris sempurna. Pohon yang hijau tak kalah menyejukkan. Suasana seperti itu sedikit mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya sekarang. Panggil saja Risa, gadis yang setiap harinya selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Pergaulannya tidak dibatasi dan hanya melakukan apa yang sesuai dengan kehendaknya.
Suatu malam, ketika kaki baru selangkah di ambang pintu terdengar suara orang yang sedang bertengkar. Tak lain adalah orang tua Risa yang sedang bertengkar hebat. Namun hal itu, tidak menghentikan langkah Risa. Dengan santai ia menuju kamarnya. Mendengar orang tua bertengkar bukan lah peristiwa yang menyenangkan bagi anaknya, namun lain halnya Risa. Seolah olah malam itu tidak ada suatu hal yang terjadi. Ia menikmati lagu yang ia dengarkan di handphone nya. Seakan suara orang yang sedang bertengkar adalah pemanis waktu istirahatnya dirumah. Hingga jarum jam terus berputar dan telah beranjak di pukul 6 pagi. Matahari dengan mau malu menampakkan dirinya, ditemani awan yang sedikit berwarna kelabu, hingga menjadikan pagi itu adalah pagi yang syahdu untuk menuang teh hangat ke cangkir yang berbaris rapi diatas meja makan. Hal itu adalah rutinitasnya sehari-hari untuk keluarga yang normal di setiap paginya. Namun seperti biasa, sunyi selalu menyelimuti suasana di meja makan Risa pagi itu. Hal itu terjadi semenjak hubungan kedua orang tua Risa retak. Entah apa penyebab dari semua itu, yang jelas keduanya sudah berencana untuk berpisah. Hal itu yang membuat Risa semakin tak karuan, hingga suasana hati selalu dingin kepada siapapun. Di sekolah ia sering membuat masalah, entah dengan teman laki-laki ataupun dengan teman perempuannya.
            “kringggggggggggg.....” telepon rumah Risa berbunyi. Ibu Risa menghampiri berharap itu adalah pangilan dari teman arisan yang membawa kabar baik, menang arisan misalnya. Yeaaah, bagi kaum sosialita arisan adalah kegiatan yang rutin dilakukan setiap bulan atau setiap minggunya. Begitupun dengan kaum sosialita di kawasan komplek rumah Risa. Namun perkiraan ibu Risa sangatlah menyimpang dari apa yang di bayangkannya. Segera bergegas mengambil tas dan mengunci pintu rumahnya setelah mendapat telepon . kemudian ibu Risa melajukan mobilnya ke arah sekolahan Risa. Dengan raut wajah yang sangat tidak menyejukkan mata jika dipandang.
“ kamu nggak pernah dengerin nasehat orang tua, mau jadi apa? kalau kamu kaya begini terus? Mau jadi apa ?anak cewek kerjaannya bikin masalah. Bikin malu aja.”
Dengan santai Risa berjalan di samping ibunya. Tak mengucap sepatah kata apapun. Pandangannya lurus kedepan, seakan akan kejadian hari ini adalah kejadian yang biasa ia hadapi.
Selang beberapa bulan setelah kejadian di sekolah, lagi-lagi risa dihadapkan dengan keadaan orang tuanya yang sekarang bukan berstatus sebagai suami istri lagi. Yaa, minggu lalu kedua orang tua Risa mengakhiri pernikahannya di pengadilan. Risa mulai menentukan piihannya untuk tinggal bersama neneknya yang ada di bekasi. Tentunya ia kehilangan tempat favoritnya, tempat yang selalu menjadi pelariannya saat ia hendak meneteskan air mata. Sekuat-kuatnya Risa, tidak menutup kemungkinan ia menjatuhkan air matanya. Pagi ini, mungkin adalah pagi terakhir ia ditemani kicauan burung, pagi terakhir ia duduk di ayunan favoritnya, dan pagi terakhir ia melihat paduan birunya laut dan langit. Sejenak ia duduk dan berdiam diri. Memandang daun yang berjatuhan karena tertiup angin.
Yaa, Risa kini sudah tinggal bersama neneknya. Wanita yang renta itu adalah ibu dari ibunya Risa. Hidupnya sebatangkara sebelum Risa memutuskan untuk tinggal bersamanya. Dirawatlah Risa menjadi wanita yang bertanggung jawab. Yang bisa menjadi wanita yang bisa berguna untuk siapapun. Namun, merubah watak Risa tidaklah mudah. “ kamu ini anak gadis. Tidak sepantasnya kamu selalu keluyuran nggak jelas. Kelak kau akan jadi ibu dari anak-anakmu. Mau jadi apa anak-anakmu kelak? Jadi seperti ibunya yang berandal ini? Haa ? cari kesibukan sana ”. Berlalulah Risa dengan teh manis di tangannya. Tak dihiraukan perkataan neneknya itu. Udara malam semakin dingin. Angin yang berhembus menyentuh dedaunan. Risa menghirup udara malam dengan ditemani secangkir teh di sampingnya. Dipandangnya bintang yang berkedip seolah menyapa angin yang berhembus. Ditegukan teh pertamanya , ia merenungi perkataan neneknya. Akankah ia harus berubah sesuai dengan perkataan neneknya. Menjadi wanita yang lebih baik untuk kedepannya. Apakah dia dapat melakukannya? Lalu langkah apa yang pertama kali harus lakukan? Pertanyaan itu tertera dalam imajinasi Risa .
Lagi lagi kabar tidak menggembirakan datang ke kehidupan Risa. Ibunya ditemukan tak bernyawa di kamarnya. Diduga ibu Risa melakukan bunuh diri dengan meminum racun yang botolnya masih tergeletak di atas tempat tidurnya. Risa memberontak dalam diamnya. Saat melihat mendiang ibunya terbaring tak bernyawa. Ia ingin teriak namun situasi tak memungkinkan. apa yang dilakukannya, ia meninggalkan ibunya saat ibunya sedang dalam keadaan yang sanat terpuruk. "Ini salahku, ini salahku, bodoh banget aku, bodoh banget “ teriaknya dalam hati. Penyesalan memanglah di akhir. Namun hidup Risa harus tetap dilanjutkan. Sekarang ia sudah memantapkan hati untuk mengubah hidupnya. Ia mulai mencari pekerjaan, berhari-hari berjalan kesana kesini namun ia tak mendapat pekerjaan juga. Hingga ia duduk di mushollah sambil memikirkan cara bagaimana ia bisa medapat pekerjaan. Mengingat neneknya sudah lanjut usia dan tidak mungkin ia harus bergantung dengan neneknya. Perihal ayah Risa, sejak dulu ayahnya tidak pernah peduli apapun tentang dia. Sekarang ia mulai mempunyai tanggung jawab untuk mengurus neneknya. Juga menebus keselahannya yang telah meninggalkan ibunya waktu itu.
Minggu beralih minggu, bulan berganti bulan. Kehidupan Risa tampak membaik dari beberapa bulan yang lalu. Dengan penampilan barunya, ia mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Yaa , dia menjadi wanita yang sholehah seperti dambaan neneknya. Ketika ia beristirahat di masjid beberapa bulan yg lalu membawa berkah dan hidayah yang luar biasa. Saat ia bertemu dengan seorang ibu yang keluar dari masjid untuk mengajar anak anak disekiar masjid mengaji. Karena ibu itu akan pindah rumah dan dia sedang mencari pengganti, Risa langsung saja mengambil kesempatan itu, karena sedikit sedikit dia bisa mengaji.  Risa diajarkan banyak hal. Mulai tentang pakakian, jam mengajar dan tentunya ada imbalannya yang berupa uang. Sejak saat itu, pribadi Risa berubah drastis. Sang nenek sangat bangga sekaligus bahagia melihatnya. Disisi lain, banyak kesulitan yang ia hadapi. Mulai anak-anak yang sulit diatur, anak-anak yang selalu saja membantah Risa. Namun, hal itu bukan masalah yang fatal bagi Risa. Berbagai cara telah ia lakukan untuk membuat anak-anak patuh kepadanya. Akirnya salah satu dari beribu caranya berhasil. Sampai saat ini pun anak-anak sangat menghormati dan menghargai Risa sebagai pengajarnya. Setelah ia menikmati hidup yang damai, ada suatu musibah yang di alaminya. Akhir-akhir ini ia sering ditemukan pingsan di masjid. Setelah beberapa kali pingsan, nenek memutuskan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Hasilnya pun membuat semua orang yang mengantar Risa kerumah sakit menangis tersedu. Mengetahui hasilnya bahwa Risa mengidap penyakit kanker otak stadium 4, yang dalam penyataan medis hidupnya tidak aka lama lagi. Menangislah orang orang yang ada disekitar Risa. Risa dikenal sebagai gadis yang baik selama ia ikut neneknya. Neneknya dengan pemikiran optimis bahwa cucunya bisa berubah menjadi anak yang lebih baik agi. Kini harapannya pun terkabul. Cucunya menjadi pengajar di salah satu madin di sekitar rumahnya. Dikenal sebagai pengajar yang menyenangkan, yang kehadirannya selalu ditunggu muri-muridnya. Kini pupus semua kebahagiaan yang dirasakan sang nenek. Risa mulai membuka mata. Bertanya apa yang sekarang terjadi. Mengapa orang disekelilingnya menangis.
Sepatah dua patah kata nenek berbicara. Menceritakan semua yang terjadi. Risa pun menangis tersedu-sedu. Risa pun berbicara apa yang ia rasakan. Pantas saja, akir-akhir ini ia sering merasakan sakit kepala yang luar biaa. Namun dikiranya itu adalah sakit kepala biasa sehingga Risa menganggapnya sepele.sekarang, ia berserah diri kepada yang kuasa. Mengharap hal terbaik dapat diperolehnya dari Yang Maha Kuasa. Namun sebelum ajal sampai kepadanya, ia memesan kepada neneknya untuk memanggilkan anak didiknya. Sampainya anak-anak itu dihadapan Risa. Ia berpesan kepada mereka “ sayangnya mbak, kalian harus janji, bakal ngaji setiap hari, doain ayah sama ibu kalian. Jangan tinggalin mereka ketika mereka butuh dukungan dari kalian. Mbak pergi dulu yaa, jangan di cari. Mbak pergi jauh banget, kalian nggak ketemu kalo nyari mbak. Pokoknya kamu harus janji jadi anak yang sholeh  dan sholehah yaa,”  Risa berbicara dengan isakan tangis. “iya mbak, kita akan inget kata-kata mbak, kita sayang mbak” .
“mbak juga sayangg sekali sama kalian “ Risa memeluk anak didiknya dengan pelukan yang hangat. Air matanya mengalir deras.  Selang beberapa menit, matanya terpejam. Ia menghembuskan nafaas terakhirnya dipelukan anak-anak yang sholeh dan sholehah itu. Apapun bisa terjadi jika Allah sudah berkehendak. Untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya memanglah harus ada usaha dan dorongan dari orang terdekat.

JANGAN JATUH CINTA, TAPI BANGUNLAH CINTA



Oleh: Joko Susanto

Abstract : The Power of Love, some people said it was blind. We don’t know until we find someone to talk and share with. In the name of God and Religion, two persons who felt in love made a promise to love each others and always be as one forever and ever.  On Islamic teaching, there is no relationship without marriage. It should be practiced in the daily and there is no one could be replaced it. Beeing a good individuality without studied is impossible, so a right knowledge (education) is needed. Then what should we do to face the marriage in the future?
Keyword : Love, Habitude, Education, Steps.

Pendahuluan
Saat membaca Judul dari artikel ini, sebagian orang mungkin beransumsi bahwa tulisan ini mengcopas dari sebuah blog ataupun artikel lain. Akan tetapi, tulisan ini murni hasil karya dari penulis dan dapat di pertanggungjawabkan keasliannya. Terobsesi dengan sebuah An-Nasyid yang dipopulerkan dari Mayday dengan judul yang sama, penulis akan membahas tentang langkah yang akan dihadapi saat seseorang mulai menginjak fase remaja akhir dan dewasa awal.

Dewasa ini, Masyarakat Indonesia (Kaum muda :writer) mengahadapi berbagai masalah dengan Budaya. Hal ini berimbas dengan menurunnya tingkat kefahaman mereka terhadap situasi-situasi yang ada. Kebanyakan kaum muda tersebut mulai bertingkah acuh dan terkesan membiarkan hal-hal baru menyeruak di kalangan tersebut. 

Parahnya lagi, “Kaum Terdidik” seakan tidak mau mengerti dan membirkan moral tersebut “dicabik” budaya pendatang tersebut. Permasalah ini mengakar dari tumbuh pesatnya Culture yang dimaksudkan oleh penulis sehingga  buahnya dapat “dinikmati” hingga saat ini.

Proses masuknya penjajahan tersebut hampir sama dengan misi yang diemban oleh kaum kapitalis pada abad ke -12 dengan mengusung semboyan “for Gold, Glory and Gospel”, layaknya ladang empuk untuk bisnis mereka menyerbu dan menghipnotis para penikmat seni yang ada di dalam negeri sehingga menimbulkan ketergantungan. 

Ketergantungan tersebut yang akhirnya menimbulkan permasalahan di kalangan  pemuda dan seakan hal tersebut menjadi suatu hal yang biasa.

Pada awalnya, perubahan tersebut hanya sekadar suatu yang biasa. Lama kelamaan, kejadian itu menjadi hal yang lumrah dan digandrungi dan selanjutnya dapat berakibat fatal dengan posisinya yang dapat mengancam budaya yang sebelumnya ada. Tentu hal tersebut tidak boleh di biarkan mengingat adat budaya bangsa Indonesia yang menganut adat timur yang sangat bertentangan dengan adat barat mereka.

Lantas bagaimana seorang individu berlaku saat menginjak fase dewasa dini? Bersamaan dengan artikel ini, penulis akan membahas jalan keluar (resolving problem) dari permasalahan tersebut dan memberikan contoh sesuai dengan hal yang terkait dalam hal pernikahan di masa dewasa dini.


Pembahasan
Tujuan utama dari diciptakannya Manusia di muka bumi ini selain sebagai khilafah juga untuk menjadikannya berpasang-pasangan, berkelompok dan bersuku sesuai dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 168.  Maksud dan tujuan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah menciptakan mereka untuk berupaya saling mengenal antara satu dengan  yang lainnya dan tentu itu merupakan tugas yang paling pokok.

Islam, sebagai agama yang di anut mayoritas warga negara Indonesia tidaklah mengajarkan budaya seperti yang ditunjukkan oleh “kaum pendatang”. Sebagai contoh, Budaya Amerika yang memperkenalkan budaya menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum adanya ikatan yang semestinya (-yang juga digandrungi oleh kaum muda Indonesia dan di tandai penyimpangan yang tidak sesuai). Mereka cenderung menirukan adat tersebut yang di ambil dari  dunia hiburan (film atau video klip :writer) dan mengabaikan nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya.

Masa Dewasa, masa dimana seorang individu sudah siap lahir maupun batin untuk bertingkah sebagaimana mestinya, serta sudah siap dalam berlaku tanpa bayang-bayang dari orang tua nya. 

Menggantikan fase Remaja Akhir, kebanyakan  individu melaluinya di usia  20-25 Tahun. Masa tersebut seseorang sudah mengetahui  serta sudah tidak lagi gampang terpengaruh dengan pengaruh dari luar. 

Pengaruh tersebut contohnya dalam segi berpacaran yang sekarang sudah menjadi hal yang  bukan tabu lagi bahkan mulai masuk ke dunia “Masyarakat Rabbani”. Ada alasan mengapa mereka melakukannya. Anggapan dengan “Pacaran Islami” sudah bukan menjadi lagu baru di kalangan Rabbani tersebut. Tentu hal itu tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan mengingat “ajaran filsafat-barat” mulai di gandrungi dan menebus masyarakat tersebut.

Langkah yang harus dilakukan

Sebenarnya bukanlah suatu hal yang sangat haram selagi bisa menempatkannya dan disesuaikan dengan syariat yang ada. Langkah pertama, hal terkecil dimulai dari diri sendiri. Ubah main set diri kita dengan meyakini bahwa tidak ada istilah berpacaran, akan tetapi proses pengenalan dengan lawan jenis tersebut merupakan suatu hubungan pertemanan. Pada awalnya, mungkin terasa berat mengingat tayangan media sekarang banyak yang mengajarkan tentang hubungan palsu (false relationship) kepada kaum muda dan terkesan ketinggalan zaman. 

Akan tetapi, itu bukanlah merupakan suatu masalah. Proses ini tidaklah harus menggunakan metode berpacaran, cukup mengenal meskipun saat menginjak fase Remaja akhir banyak sekali tantang dan godaan untuk ikut trend yang sudah menjalar hingga saat ini, yaitu berpacaran.

Menginjak Fase dewasa dini, fase yang mana seseorang sudah mulai siap dengan jati diri dan melangkah, begitu pula langkah kedua siap untuk di lakukan. Proses Pemantasan diri, begitulah fase ini di sebut. Mulai tentukan dan kenal dengan baik seseorang yang diinginkan untuk menjadi teman hidup. Selalu Istikharah dan beristiqomah dengan benar merupakan kunci keberhasilan dalam fase ini. Masa ini, seseorang dituntut untuk tidak berlaku “grusa-grusu” dalam segala sesuatu. Seseorang yang sudah menginjak fase ini sudah siap, baik lahir maupun batinnya untuk menghadapi tantangan yang akan berlaku di kemudian hari , termasuk untuk hal pernikahan.

Terdapat dua perbedaan antara Jatuh cinta dan Membangun cinta. Manakah yang lebih sesuai dengan syariat agama? Jawabannya tentulah pilihan yang kedua, yaitu Membangun cinta. Membangun cinta merupakan membangun rasa suka dan mengagumi tanpa harus mengungkapkan kepada orang tersebut jikalau syarat-syarat tentang pemantasan diri seorang individu belum tercapai semua. Syarat utama yaitu mental baik itu lahir maupun batinya. Belajar untuk mengendalikan rasa di usia ini sangatlah berat, akan tetapi setelah seorang individu dapat melaluinya, sangatlah mudah untuk tidak jatuh cinta (yang dalam istilah zaman sekarang dikenal berpacaran) di usia awal sebelum semua syarat terpenuhi.

Setelah syarat tersebut terpenuhi, tibalah saat yang sangat ditunggu-tunggu, yaitu penyatuan dua hati untuk menyempurnakan sebahagian rukun dalam agamaNya, yaitu pernikahan. Dalam fase inilah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Seseorang yang sudah menikah  tidak hanya berlatih, akan tetapi mempraktikkan semua tanggung jawab yang seharusnya dan fase yang mana seorang individu terlepas beban dari orang tua. Kunci dari fase ini yaitu ketelatenan dan proses penyatuan antara dua individu yang berbeda ciri khas menjadi satu. Baru setelah fase pernikah inilah seorang individu diperbolehkan untuk jatuh cinta dengan pasangannya dengan “tidak terbatas”.

Suatu langkah lanjutan setelah proses pernikahanlah yang sangat berat. Masa ini, individu yang belum sepenuhnya matang akan sangat berbahaya serta berefek dengan kegagalan berumah tangga. Oleh sebab itu, kedewasaan yang dibangun akan sangat berpengaruh dan akar dari hasil tersebut dapat diambil dari langkah diatas.

Jadi, itulah keindahan untuk membangun cinta sesuai dengan syariat agama tanpa harus berpacaran di usia muda dengan menunggunya di fase yang sudah cukup.

Effek yang timbul
 
Terdapat beberapa effek yang mungkin muncul saat seorang individu menjalani dan bertingkah pada masa yang sangat vital tersebut. Adapun contoh yang dihasilkan dari keberhasilan seseorang yang berlaku di fase dewasa dini, diantaranya adalah, seorang Individu tumbuh berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan mantap. Keberhasilan dalam berperilaku akan menjadikannya insan yang mulia dan berakhlak santun  Kreatif di semua bidang. Tumbuh dan tidak menimbulkan ketergantungan dari orang tua  Siap menghadapi mental dan tantangan di masa depan. Berhasil dalam membina rumah tangga dengan pemilihan yang tepat. Disenangi oleh banyak orang.

Siap menjalankan kepengurusan yang melibatkan orang banyak dalam berorganisasi
Selain itu, efek juga akan muncul saat seorang individu kurang/tidak berhasil dalam berlaku di fase dewasa dini, contohnya adalah, Menjadi seorang yang masih labil dan kekanak-kanankan. Masih bergantung kepada orang tua dalam segala hal.  Belum tentu siap menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Belum tentu siap dalam urusan  pernikahan,  menikah, seseorang tersebut kecil kemungkinan berhasil kalau pasangannya orang yang berkepribadian sama
7.      Dalam berorganisasi tidak akan dengan mudah “dipandang” orang banyak

Kesimpulan
Fase dewasa dini, masa dimana seorang individu memutuskan untuk berperilaku secara mandiri dan bertingkah sesuai dengan dengan apa yang diperolehnya di tahap mas sebelumnya. Pada masa ini, seorang individu sudah mulai menemukan jati diri (bukan proses latihan lagi) dan siap untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi, pernikahan.
Sebagai seorang individu, tentu membutuhkan suatu “pendidikan” serta langkah yang harus di tempuh di setiap fase yang sudah di lalui, baik itu fase anak-anak dan yang berpuncak pada fase remaja akhir yang berimbas dengan perilaku yang di praktikkannya di masa dewasa awal/dini. Yang paling berpengaruh adalah pendidikan yang diperolehnya dari guru-guru di bangku sekolah, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk memperolehnya di kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya, Sesuai dengan judul di atas, jangan jatuh cinta tapi bangunlah cinta yang kekal hingga ke surga.





TUGAS BAHASA INDONESIA
JOKO SUSANTO
1788203016

ANGINMU ADALAH AKU

Pacitan, 14/11/2018   Reny Fitriyan  Pagi yang cerah, sungguh indah memang. Hangat sinar mentari mulai tampakkan kem...